Menemukan Orang-Orang Baik di Lereng Gunung Tambora

Bagian ketiga dari seri tulisan Memfasilitasi Refleksi Kinerja Indonesia Mengajar: Lima Hari Perjalanan SOLIDARITAS di Kabupaten Bima

Jika Anda ingin mendapatkan potret yang menggambarkan bagaimana negara, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Bima, melayani kebutuhan warga di daerah terpencil akan pendidikan dasar, berkunjunglah ke SD Negeri Tambora. SD ini terletak di Desa Oei Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Untuk mencapai lokasi ini Anda butuh waktu 7 jam perjalanan dari pusat kota kabupaten: 5-6 jam perjalanan darat melintasi padang savana di Kabupaten Dompu, lalu sesampai di Labuhan Kenanga, ibukota Kecamatan Tambora, Anda harus meneruskan perjalanan dengan motor selama 1 jam menelusuri lereng dan lembah Gunung Tambora. Selama 1 jam terakhir itu, jalannya rusak berat akibat lalu lintas penebang liar, pendaki gunung, dan penggemar motorcross. Jika hujan, jalan ini lebih mirip sungai kecil, berlubang-lubang, licin dan berlumpur. Bahkan ada jembatan yang sudah roboh, sehingga motor harus lewat sungai; kalau tidak mau basah, pejalan kaki harus merangkak di bagian jembatan yang sudah jebol.

Minggu lalu SOLIDARITAS menemukan sekolah ini dalam kondisi mengenaskan. Sekolah ini dikelilingi hutan. Dulu, sewaktu pabrik kopi masih beroperasi, ada beberapa orang yang tinggal di sekitar sekolah. Sekarang, tidak ada penghuni lagi: rumah-rumah nyaris roboh, dan bangunan bekas pabrik sudah dipenuhi ilalang. Sekolah ini, di mana tidak ada listrik, kakus, dan toilet, dan hampir tidak ada bangku, masih melayani siswa dari 3 kampung di sekitarnya. Yang terdekat sekitar 1,5 kilometer. Setiap hari anak-anak berjalan kaki pergi dan pulang ke sekolah, sambil tidak jarang babi hutan atau ular di tengah jalan.

Ada 6 guru yang mengajar di SDN Tambora, 1 guru honorer daerah dan 5 guru relawan. Yang relawan mendapatkan gaji sekitar 750 ribu per tiga bulan, jumlah yang tidak cukup bahkan untuk membeli bensin motor, satu-satunya alat transportasi mereka. Kepala sekolah, satu-satunya pegawai negeri sipil yang notabene aparat negara, disebut oleh beberapa orang tua murid hanya “hadir dua bulan sekali.” Gaji pegawai negeri sipil, tunjangan sertifikasi, dan tunjangan daerah terpencil dinikmati kepala sekolah nyaris tanpa catatan kinerja yang terukur. Karena tidak ada ruang guru, guru-guru honorer dan sukarelawan biasa nongkrong dan rapat di bawah pohon.

Bagaimana Pemerintah Kabupaten Bima memandang Tambora? Beberapa pejabat menyebut Tambora secara eksplisit sebagai “daerah pembuangan”. Dua kali yang berbeda tokoh masyarakat setempat mengatakan “Tambora ini adalah Nusakambangan kedua”. Anda tahu Nusakambangan adalah nama pulau kecil di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah tempat para penjahat atau tahanan kelas kakap dipenjarakan. Yang dimaksud oleh dua tokoh itu, Kecamatan Tambora adalah tempat para aparatur pemerintah Kabupaten Bima yang melakukan tindakan indisipliner atau pejabat-pejabat pemerintah yang tidak sehaluan politik dengan kepala daerah dimutasi, atau dengan kata lain, dibuang.

Meski begitu, SOLIDARITAS menemukan banyak orang baik di Tambora. Mereka adalah Heri, tenaga honorer yang berasal dari Tambora dan mau mengajar anak-anak karena panggilan hatinya (kata Heri, “kalau bukan kami, siapa lagi yang akan mengajar mereka?”); Ina Rian dan beberapa orang tua lain di tiga kampung yang rela menjadikan rumahnya sebagai rumah belajar siswa pada sore atau malam hari; Pak Adu yang baru menjadi anggota komite sekolah dan berusaha menghubungi kepala sekolah supaya lebih rutin datang, meski direspon dengan janji kosong; Mama Dara yang menjadi “ibu” bagi para pengajar muda Indonesia Mengajar, dan sejumlah warga yang di tengah kesibukan mengurus ladang masih meluangkan waktu untuk mengurus pendidikan anak-anaknya. Kami merasa beruntung sekali ketemu dengan orang-orang baik ini, yang sedang berjuang keras dalam memajukan pendidikan di Tambora.